TUGAS PAPER EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN (ESDH)

 

Pemanfaatan Sumberdaya Hutan oleh Masyarakat di KPH Banyuwangi Utara

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Oleh:

JOSHUA MAHARDHIKA PURBA

191201183

HUT 4A








PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun tujuan dari penulisan paper ini yaitu sebagai salah satu tugas  Ekonomi Sumber Daya Hutan, di Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul Makalah ini adalah "Pemanfaatan Sumberdaya Hutan oleh Masyarakat di KPH Banyuwangi Utara  ".

          Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab mata kuliah, Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. yang telah memberikan materi dengan baik dan benar.

          Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi paper ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

 

 

     Medan,     Maret 2021

  

                                                                                                                                            Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

    Hutan sebagai sumberdaya alam yang terbarukan, memiliki berbagai manfaat penting bagi keberlangsungan hidup mahluk hidup. Pengelolaan hutan yang baik harus dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat, pengelola hutan dan stakeholders serta lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu, pengelolaan hutan yang baik juga harus memperhatikan aspek-aspek kelestarian hutan, seperti: aspek ekologi, produksi, serta sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar hutan (Purnawan, 2006).

    Adanya masyarakat yang tinggal di sekitar hutan yang mempunyai akses langsung maupun tidak langsung terhadap kawasan hutan serta memanfaatkan sumberdaya hutan adalah suatu realita yang tidak bisa diabaikan. Kondisi ini tentunya akan berdampak positif maupun negatif terhadap kelestarian hutan. Kegagalan pengelolaan hutan yang terjadi selama ini bukan disebabkan oleh faktor teknis semata namun lebih disebabkan oleh faktor sosial. Oleh karena itu, pengelolaan hutan yang baik tidak hanya memperhatikan aspek teknis pengelolaan hutan, namun juga harus memperhatikan aspek sosial (Nurrochmat, 2005).

    Kehidupan masyarakat desa sekitar hutan tidak bisa dipisahkan dari keberadaan hutan tempat mereka menggantungkan hidupnya. Tingginya angka kemiskinan dan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadi permasalahan besar dalam pembangunan hutan. Tekanan terhadap hutan terus meningkat serta tuntutan terhadap pemenuhan kebutuhan hidup dan penyediaan lahan untuk areal pemukiman dan fungsi-fungsi lainnya menjadi lebih besar. Implementasi kegagalan pengelolaan hutan akan berdampak pada meningkatnya deforestasi hutan. Paradigma baru dalam pengelolaan dan pembangunan hutan yang melibatkan masyarakat merupakan harapan baru untuk dapat memecahkan permasalahan yang terjadi dalam pembangunan kehutanan (Darusman, 2012)

    Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap keberadaan sumberdaya hutan sangat tinggi, namun sejauh ini belum diketahui secara pasti jenis dan besaran nilai manfaat yang diperoleh masyarakat dari hasil pemanfaatan sumberdaya hutan tersebut. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka penelitian ini mengkaji lebih dalam nilai manfaat sumberdaya hutan yang diperoleh masyarakat desa di sekitar hutan serta kontribusinya terhadap pendapatan ratarata rumah tangga.

1.2  Rumusan Masalah

1. Bagaimana Karakteristik masyarakat desa sekitar hutan Banyuwangi Utara
2. Apa saja Jenis-jenis sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Banyuwangi Utara
3. Apa saja Nilai manfaat sumberdaya hutan bagi masyarakat Banyuwangi Utara

1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui Karakteristik masyarakat desa sekitar hutan Banyuwangi Utara
2. Untuk mengetahui Jenis-jenis sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat                 Banyuwangi Utara
3. Untuk mengetahui Nilai manfaat sumberdaya hutan bagi masyarakat Banyuwangi Utara



BAB II

ISI

2.1 Karakteristik masyarakat desa sekitar hutan Banyuwangi Utara

    Usia mempengaruhi tingkat pemanfaatan sumberdaya hutan. Semakin tua usia seseorang maka semakin kurang produktif, sehingga pemanfaatan sumberdaya hutan yang ada juga relatif kecil. Usia masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya hutan dari kedua desa yang menjadi objek penelitian, sebagian besar berada pada usia produktif. Bakri dan Maning dalam Girsang (2006) mengemukakan bahwa usia produktif untuk bekerja di negara-negara berkembang, pada umumnya adalah 15-55 tahun. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa responden dari Desa Sumberwaru didominasi oleh kelompok masyarakat yang berusia antara 35-44 tahun yaitu sebesar 42,5%. Demikian juga untuk Desa Sumberanyar, persentase terbesar responden adalah kelompok masyarakat yang berusia antara 35-44 tahun sebesar 55%. Berdasarkan informasi tersebut terlihat bahwa masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya hutan terbesar dilakukan oleh kelompok usia produktif. 

    Banyaknya masyarakat pemanfaat sumberdaya hutan yang termasuk dalam kelompok usia produktif mengindikasikan bahwa adanya keterbatasan lapangan pekerjaan di luar bidang kehutanan di daerah tersebut. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya hutan yang ada, sebagai salah satu alternatif pekerjaan yang mampu memberikan tambahan pendapatan keluarga. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa keluarga responden di Desa Sumberwaru dan Desa Sumberanyar rata-rata mempunyai jumlah anggota keluarga sebanyak 4 orang. Hal ini dapat diartikan bahwa ketersediaan tenaga kerja di setiap keluarga di 2 desa yang menjadi objek penelitian cukup banyak. Kondisi ini tentunya dapat berdampak pada meningkatnya pemanfaatan sumberdaya hutan. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua anggota keluarga dapat memanfaatkan sumberdaya hutan, hal ini dikarenakan banyak anggota keluarga yang belum cukup umur (anak-anak) atau sudah lanjut usia sehingga tidak mampu untuk memanfaatkan sumberdaya hutan tersebut.

    Tingkat pendidikan masyarakat (dapat) berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan sumberdaya hutan. Hal ini terkait dengan ilmu pengetahun yang dimiliki, penguasaan teknologi, keterampilan, dan informasi pasar yang diperoleh. Tingkat pendidikan yang rendah, penguasaan 100 % Nj nij Pij 175 teknologi dan keterampilan yang terbatas, serta kurangnya informasi pasar menyebabkan pemanfaatan sumberdaya hutan terutama untuk jenis-jenis komersil menjadi tidak terkendali. Hal ini tentunya akan berdampak negatif terhadap kelestarian sumberdaya hutan tersebut. Terbatasnya teknologi dan keterampilan yang dimiliki menyebabkan rendahnya kemampuan untuk menghasilkan produk baru/produk olahan yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Kurangnya informasi pasar yang dimiliki menyebabkan terjadinya eksploitasi terhadap jenis-jenis sumberdaya hutan tertentu.

 2.2  Jenis-jenis sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Banyuwangi Utara

    Bagi masyarakat desa sekitar hutan di lokasi penelitian, keberadaan kawasan hutan sangat berarti untuk keberlangsungan hidup. Mereka bergantung pada berbagai sumberdaya yang ada di hutan seperti kayu bakar, bahan makanan, bahan bangunan dan hasil-hasil hutan lainnya yang dapat memberikan nilai tambah bagi kehidupan mereka. Interaksi sosial masyarakat 176 desa dengan hutan dapat terlihat dari ketergantungan masyarakat desa sekitar hutan akan sumbersumber kehidupan dasar seperti air, sumber energi (kayu bakar dan bahan-bahan makanan yang dihasilkan dari hutan)

    Bahan bangunan, dan sumberdaya lainnya. Bentuk-bentuk interaksi sosial ini tercermin dari kegiatan masyarakat seperti: mengumpulkan berbagai hasil hutan berupa: kayu bakar sebagai sumber energi, rumput untuk makanan ternak, umbi-umbian dan buah-buahan untuk bahan makanan, dan hasil-hasil hutan lainnya. Pemanfaatan sumberdaya hutan yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Sumberwaru dan Desa Sumberanyar pada umumnya dilakukan secara musiman. 

2.3  Nilai manfaat sumberdaya hutan bagi masyarakat Banyuwangi Utara

    Pemanfaatan rencek/kayu bakar sebagai salah satu sumber energi rumah tangga masih banyak dilakukan oleh masyarakat Desa Sumberwaru dan Desa Sumberanyar. Masyarakat memanfaatkan rencek yang berasal dari hutan Perum Perhutani, baik untuk digunakan sendiri maupun untuk dijual sebagai penghasilan utama atau penghasilan tambahan Sebagian besar kegiatan pengambilan rencek/kayu bakar dilakukan dengan menggunakan sepeda dan sepeda motor sebagai alat transportasi dan alat angkutnya. Pemanfaatan kayu bakar dengan menggunakan sepeda atau sepeda motor, dalam satu kali pengambilan bisa mencapai 4−5 ikat kayu bakar (1 m3 kayu bakar siap jual setara dengan 10 ikat kayu bakar), sedangkan dengan cara dipikul hanya mampu menghasilkan 1−2 ikat.

    Kayu bakar yang diperoleh biasanya dijual ke Pasar Galean, Pasar Asembagus, industi pemindangan dan pengeringan ikan yang berlokasi di daerah Jangkar dan Mimbo, restoranrestoran, dan terkadang dijual ke pengepul rencek. Harga per ikat kayu bakar berkisar antara Rp 2.000,00−Rp 4.000,00/ikat, tergantung ukuran, volume, dan kualitasnya. Untuk kayu bakar yang diangkut dengan menggunakan sepeda atau sepeda motor harganya berkisar antara Rp 15.000,00− Rp 18.000,00/sepeda (1 m3 kayu bakar siap jual setara dengan 2 sepeda atau sepeda motor kayu bakar). Sedangkan kayu bakar yang diangkut dengan menggunakan truk biasanya langsung dijual ke pabrik batubata merah, genting, tepung, gula dengan harga yang berkisar antara Rp 225.000,00− Rp 250.000,00 per truk.

    Pemanfaatan biji Acacia nilotica oleh masyarakat desa sekitar hutan dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan memungut bijibiji yang telah jatuh di lantai hutan maupun dengan mengunduh langsung dari pohonnya. Sebagian besar pemanfaatnya adalah masyarakat yang tinggal di Dusun Sekarputih, yang mayoritas mata pencahariannya bergantung dari sektor pertanian dan kehutanan. Sebagian besar masyarakat desa sekitar hutan mengambil biji akasia dengan menggunakan sepeda maupun sepeda motor, namun tidak sedikit juga masyarakat yang berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer untuk sampai ke lokasi pengambilan biji. Dalam satu kali musim panen, pada umumnya satu keluarga mampu mengumpulkan biji akasia sebanyak 400−1.000 kg.Harga biji akasia bersih setelah melewati proses penjemuran dan sortasi berkisar antara Rp 4.000,00−Rp 5.000,00 per kg.

    Pemanfaatan biji kemiri banyak dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Dusun Blangguwan dan Dusun Sekarputih. Lokasi pemanfaatannya biasanya di hutan lindung Perum Perhutani, namun ada juga yang mengambil biji kemiri di hutan TN Baluran. Pada umumnya masyarakat mencari biji kemiri secara berkelompok, yang terdiri dari 3−4 orang Pemanfaatan biji kemiri biasanya dilakukan pada bulan Agustus−Oktober. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang mengambil biji kemiri, ketika musim kemiri tiba mereka biasanya memperoleh 3000−4000 biji kemiri  Biji kemiri yang sudah dibersihkan dan dikeringkan dijual kepada pengumpul dengan harga Rp 6.000,00/kg. Untuk satu kg biji kemiri berisi ± 300 butir biji kemiri Memotong dahan berarti merusak kondisi pohon, hal ini dapat menyebabkan hambatan untuk berbuah pada musim berikutnya, sehingga produktifitasnya menurun. Oleh karena itu, untuk mengendalikan masalah tersebut, hendaknya diperhatikan cara dan mekanisme pengambilan yang tepat dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian.



BAB III

PENUTUP


Kesimpulan

1. Pemanfaatan sumberdaya hutan terbesar terjadi pada komoditas rencek/kayu bakar dan rumput.

2. Pemanfaatan komoditas rumput menempati urutan kedua terbesar setelah rencek, dengan persentase pemanfaatan yang mencapai 40% di Desa Sumberwaru.

3. Pemanfaat komoditi rumput terbanyak terjadi di Dusun Sekarputih yang mencapai 90% dari total responden di dusun tersebut. Mayoritas masyarakat Sekarputih memanfaatkan rumput dari hutan RPH Sumberejo tepatnya di wilayah Kendeng Timur Laut (KTL).

4. Pemanfaatan komoditi biji akasia arabika yang berasal dari hutan Perum Perhutani terbesar dilakukan oleh masyarakat di Desa Sumberanyar, dengan persentase pemanfaat sebesar 36,99% dari total responden di desa tersebut.

5. Pemanfaatan madu mayoritas dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Dusun Sekarputih Desa Sumberanyar, tercermin dari persentase jumlah pemanfaat madu yang mencapai 20%. Untuk jenis komoditi biji kemiri dan kedawung, pemanfaatnya hanya berasal dari Dusun Sekarputih Desa Sumberanyar dan Dusun Blangguwan desa Sumberwaru


Saran

    Perlu adanya kajian sistem kelola sosial mengenai aktivitas-aktivitas ekonomi alternatif yang paling tepat untuk diterapkan di 2 desa tersebut guna mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan.



DAFTAR PUSTAKA

Bahruni. 2009. Penilaian Sumberdaya Hutan dan Lingkungan. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

Darusman, D. 2012. Laporan Akhir Pola Pengusahaan Hutan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa Sekitar Hutan. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Girsang, R. E. 2006. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan oleh Masyarakat Sekitar Hutan Jati di BKPH Bancar, KPH Jatirogo, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Nurrochmat, D.R. 2005. Strategi Pengelolaan Hutan. Upaya Menyelamatkan Rimba yang Tersisa. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Purnawan, R. 2006. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Sebagai Ekoturism Berbasis Kemasyarakatan. Surili 2 (39): 14.



Komentar

  1. Tengkyu infonya lo bang berguna sekali

    BalasHapus
  2. Informasinya sangat menarik dan menambah wawasan, terimakasih min:)

    BalasHapus
  3. Dalam nama bapa dan putera dan roh kudus, Amin

    BalasHapus
  4. Mantap praa, informasinya sangat bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar